Apa Itu Sextortion? Ancaman Digital yang Mengintai Anak & Remaja


Ilustrasi Cyber Bullying

Ilustrasi Cyber Bullying

Perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan ancaman baru, terutama bagi anak-anak. Salah satu ancaman yang semakin marak adalah sextortion atau pemerasan seksual berbasis daring. Kejahatan ini menyasar siapa saja, tetapi anak-anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan.

Pelaku sextortion tidak peduli dengan kehancuran yang mereka timbulkan pada korbannya. Motivasi utama mereka adalah keuntungan finansial, dengan cara mengancam menyebarkan gambar atau video vulgar korban jika tidak diberikan uang. National Crime Agency Inggris (NCA) dalam laporan “NCA issues urgent warning about sextortion” memperingatkan bahwa kejahatan ini terus meningkat dan sangat berbahaya.

Artikel ini akan membahas modus operandi sextortion, dampaknya bagi korban, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan orangtua dan masyarakat untuk melindungi anak-anak dari ancaman ini.

 

Apa Itu Sextortion?

Sextortion adalah bentuk pemerasan seksual berbasis daring di mana pelaku mengancam akan menyebarkan gambar atau video eksplisit korban jika tidak memenuhi permintaannya. Permintaan ini biasanya berupa uang, konten eksplisit tambahan, atau tindakan tertentu yang menguntungkan pelaku.

Kejahatan ini sering terjadi di media sosial, aplikasi perpesanan, atau platform kencan daring. Sextortion dapat menimpa siapa saja, tetapi anak-anak dan remaja menjadi target utama karena mereka lebih rentan terhadap manipulasi dan tekanan psikologis.

 

Cara Kerja Sextortion

Sextortion terjadi ketika pelaku menggunakan identitas palsu untuk mendekati korban, biasanya melalui media sosial atau aplikasi kencan. Kasus ini paling sering menargetkan remaja laki-laki berusia 14–17 tahun, meskipun siapa pun bisa menjadi korban. Modus umum yang digunakan oleh pelaku meliputi:

  1. Penyamaran sebagai Gadis Muda
    Pelaku sering kali berpura-pura menjadi gadis muda yang tertarik untuk menjalin hubungan dengan korban. Mereka kemudian membangun kepercayaan dengan mengobrol secara intens.
  2. Meminta Konten Eksplisit
    Setelah mendapatkan kepercayaan korban, pelaku membujuk mereka untuk mengirim foto atau video pribadi yang bersifat sensitif.
  3. Pemerasan dan Ancaman
    Begitu pelaku mendapatkan konten tersebut, mereka mulai mengancam akan menyebarkannya jika korban tidak memenuhi permintaan mereka, baik itu dalam bentuk lebih banyak konten atau uang.
  4. Eksploitasi Berkelanjutan
    Banyak korban yang terperangkap dalam lingkaran eksploitasi karena rasa takut dan malu, sehingga mereka terus memenuhi tuntutan pelaku tanpa berani melapor.
 

Peran Orangtua dan Sekolah dalam Mencegah Sextortion

Orangtua, guru, dan masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah sextortion dan melindungi anak-anak. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  1. Edukasi Anak tentang Bahaya Sextortion
    Anak-anak harus diberi pemahaman tentang risiko berbagi foto atau video pribadi di internet. Tekankan bahwa apa yang mereka bagikan di dunia maya dapat disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
  2. Membangun Komunikasi Terbuka
    Anak-anak harus merasa nyaman berbicara dengan orangtua atau guru jika mereka menghadapi ancaman daring. Jika mereka takut dihukum, mereka akan cenderung menyembunyikan masalah yang mereka hadapi.
  3. Mengawasi Aktivitas Digital Anak
    Orangtua perlu mengawasi penggunaan media sosial anak-anak mereka tanpa melanggar privasi mereka. Gunakan aplikasi parental control dan pastikan anak-anak hanya berinteraksi dengan orang yang benar-benar mereka kenal.
  4. Memberikan Pemahaman tentang Rekayasa Sosial
    Ajarkan anak-anak bagaimana pelaku kejahatan daring bisa memanipulasi mereka. Contohkan bagaimana pelaku bisa berpura-pura menjadi teman sebaya atau menawarkan hadiah untuk mendapatkan kepercayaan korban.
  5. Mengajarkan Langkah Keamanan Digital
    Anak-anak harus memahami pentingnya menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), dan tidak sembarangan mengklik tautan atau menerima permintaan pertemanan dari orang asing.

 

Langkah yang Harus Dilakukan Jika Anak Menjadi Korban Sextortion

Jika seorang anak mengalami sextortion, berikut langkah-langkah yang harus dilakukan:

  1. Jangan panik dan segera beri dukungan moral
    Yakinkan anak bahwa mereka tidak sendiri dan mereka tidak bersalah.
  2. Jangan menuruti permintaan pelaku
    Mengirimkan uang atau konten tambahan hanya akan memperburuk situasi.
  3. Simpan bukti ancaman
    Ambil tangkapan layar (screenshot) pesan ancaman sebagai bukti yang bisa digunakan untuk melaporkan pelaku.
  4. Segera laporkan ke pihak berwenang
    Di Indonesia, kasus sextortion bisa dilaporkan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) atau Cyber Crime Polri.
  5. Gunakan layanan penghapusan gambar
    Beberapa organisasi internasional seperti Internet Watch Foundation (IWF) memiliki layanan untuk membantu menghapus konten yang telah tersebar.
 

Jenis Sextortion yang Sering Terjadi

Menurut laporan yang diterbitkan oleh pemerintah AS, terdapat dua jenis utama sextortion:

  1. Sextortion Tradisional
    Pelaku memaksa korban untuk memberikan lebih banyak gambar atau video eksplisit sebagai imbalan agar konten sebelumnya tidak disebarluaskan.
  2. Sextortion Finansial
    Pelaku meminta uang sebagai syarat agar tidak menyebarkan konten yang telah mereka peroleh. Sextortion finansial mengalami peningkatan tajam dengan 79 persen kasus melibatkan permintaan uang dari korban.

 

Dampak Sextortion Terhadap Korban

Kasus sextortion bukan sekadar kejahatan daring, tetapi juga memiliki dampak serius bagi korban, terutama remaja yang masih dalam tahap perkembangan emosional. Beberapa dampak yang dapat ditimbulkan antara lain:

  1. Rasa Malu dan Trauma
    Korban sextortion sering kali merasa sangat malu dan bersalah, yang dapat menyebabkan gangguan psikologis jangka panjang.
  2. Depresi dan Kecemasan
    Ancaman terus-menerus dari pelaku membuat korban mengalami kecemasan dan stres yang berlebihan.
  3. Kehilangan Kepercayaan Diri
    Korban bisa merasa tidak aman dan kehilangan harga diri setelah mengalami eksploitasi.
  4. Keinginan untuk Bunuh Diri
    Beberapa kasus sextortion berakhir tragis dengan korban yang merasa putus asa hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

 

Upaya Pencegahan Sextortion oleh Pemerintah AS

Kasus pemerasan seksual berbasis daring atau sextortion semakin marak terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Amerika Serikat dan Indonesia. Sextortion adalah bentuk pemerasan yang melibatkan ancaman untuk menyebarkan gambar atau video eksplisit korban kecuali mereka memenuhi tuntutan pelaku.

Pemerintah AS melalui US Immigration and Customs Enforcement telah menerbitkan laporan berjudul “What it is and what parents can do to help prevent and stop it” (10 Februari 2025). Laporan tersebut menjelaskan bagaimana sextortion terjadi, dampak yang ditimbulkannya, serta langkah-langkah yang bisa diambil untuk mencegah kejahatan ini.

Di Amerika Serikat, organisasi seperti National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) dan Homeland Security Investigations (HSI) bekerja sama untuk mengidentifikasi korban dan menangkap pelaku sextortion. Selain itu, pemerintah AS juga mendorong orang tua untuk lebih aktif dalam menjaga keamanan daring anak-anak mereka dengan cara:

  1. Menjaga Komunikasi Terbuka
    Orang tua perlu mendiskusikan bahaya dunia maya secara terbuka dengan anak-anak mereka, sehingga mereka lebih waspada terhadap potensi ancaman.
  2. Mengawasi Aktivitas Daring Anak
    Memantau penggunaan media sosial dan aplikasi perpesanan dapat membantu mencegah anak-anak jatuh ke dalam perangkap pelaku sextortion.
  3. Meninjau Pengaturan Privasi
    Mengajarkan anak-anak untuk mengatur privasi media sosial mereka agar tidak mudah dihubungi oleh orang asing.
  4. Membatasi Akses Internet di Malam Hari
    Mengurangi penggunaan internet saat malam hari bisa menghindarkan anak-anak dari interaksi mencurigakan dengan pelaku di dunia maya.
  5. Mendorong Anak untuk Tidak Berbagi Informasi Pribadi
    Anak-anak perlu diajarkan untuk tidak mudah membagikan data pribadi atau menerima permintaan pertemanan dari orang yang tidak dikenal.

 

Sextortion di Indonesia: Ancaman yang Nyata

Sextortion bukan hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga menjadi ancaman nyata di Indonesia. Sayangnya, kasus ini sering kali tidak terungkap karena beberapa faktor berikut:

  1. Kurangnya Literasi Digital
    Banyak pengguna internet di Indonesia yang belum memahami betul bagaimana menjaga keamanan data pribadi mereka.
  2. Ketakutan dan Rasa Malu
    Korban sering kali enggan melapor karena takut disalahkan atau dipermalukan.
  3. Faktor Budaya
    Masyarakat cenderung menstigmatisasi korban pelecehan seksual, sehingga banyak kasus yang tidak dilaporkan.
  4. Kurangnya Perlindungan Hukum yang Efektif
    Meskipun sudah ada regulasi terkait kejahatan siber, implementasi perlindungan bagi korban masih perlu diperkuat.

 

Upaya Pencegahan dan Penanganan Sextortion di Indonesia

Untuk menangani sextortion secara efektif, Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis berikut:

  1. Meningkatkan Regulasi Perlindungan Data Pribadi
    Pemerintah harus memperkuat peraturan terkait keamanan digital dan perlindungan anak dari eksploitasi daring.
  2. Mengimplementasikan UU ITE dengan Lebih Baik
    UU No. 1 Tahun 2024 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sudah mengatur tentang perlindungan anak di dunia digital, tetapi perlu segera diimplementasikan dengan tegas.
  3. Mengedukasi Masyarakat tentang Keamanan Siber
    Literasi digital harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agar anak-anak lebih paham tentang risiko kejahatan daring.
  4. Meningkatkan Peran Penyedia Platform Digital
    Platform media sosial dan aplikasi perpesanan harus lebih proaktif dalam mendeteksi dan mencegah aktivitas predator daring.
  5. Mendorong Korban untuk Berani Melapor
    Kampanye kesadaran perlu digalakkan agar korban tidak merasa sendirian dan tahu bahwa mereka bisa mendapatkan bantuan.

Kesimpulan
Sextortion adalah kejahatan serius yang bisa merusak kehidupan anak-anak dan remaja. Ancaman ini semakin meningkat seiring dengan berkembangnya teknologi digital. Oleh karena itu, semua pihak orangtua, guru, perusahaan teknologi, dan masyarakat, harus berperan aktif dalam melindungi anak-anak dari ancaman ini.

Edukasi, komunikasi terbuka, dan pengawasan yang bijak menjadi kunci utama dalam mencegah sextortion. Selain itu, anak-anak harus didorong untuk tidak takut melapor jika mereka mengalami ancaman ini. Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi generasi muda.

Mari bersama-sama melindungi anak-anak dari bahaya sextortion!

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Berlangganan

Berlangganan newsletter kami dan dapatkan informasi terbaru.

Video Terkait