Lindungi Anak dari Ancaman Digital: Strategi & Regulasi Global
- Rita Puspita Sari
- •
- 27 Mar 2025 17.51 WIB

Ilustrasi Keamanan Digital
Dalam era digital saat ini, anak-anak semakin terhubung dengan internet sejak usia dini. Menurut laporan UNICEF “Protecting Children Online”, seorang anak di dunia memulai pengalaman daringnya setiap setengah detik. Meskipun dunia digital menawarkan banyak manfaat seperti akses ke informasi, kreativitas, dan jaringan sosial, ada ancaman besar yang mengintai.
Perundungan siber, eksploitasi seksual, serta penyalahgunaan data pribadi adalah beberapa risiko utama yang dihadapi anak-anak saat mereka menjelajahi internet. Oleh karena itu, strategi untuk melindungi anak-anak di lingkungan digital menjadi sangat penting.
Ancaman yang Mengintai Anak di Dunia Digital
Internet adalah pedang bermata dua. Jika digunakan dengan bijak, internet dapat menjadi sarana belajar yang luar biasa bagi anak-anak. Namun, ada ancaman nyata yang dapat membahayakan mereka, di antaranya:
- Perundungan Siber
Lebih dari sepertiga anak muda di 30 negara telah mengalami perundungan siber, dan 1 dari 5 anak di antaranya bahkan membolos sekolah karena hal ini. Perundungan siber dapat terjadi melalui media sosial, aplikasi perpesanan, atau platform daring lainnya.Dampaknya tidak hanya terbatas pada rasa malu atau stres, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan mental, kecemasan, hingga depresi.
- Eksploitasi dan Pelecehan Seksual Daring
UNICEF mencatat bahwa tidak pernah semudah ini bagi pelaku kejahatan untuk menghubungi korban anak-anak secara daring. Mereka dapat memanipulasi anak agar mengirimkan foto atau video tidak senonoh, bahkan mengarah pada eksploitasi seksual langsung.Hal ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena pelaku dapat menyebarkan konten eksploitasi dengan cepat melalui internet.Sekitar 80% anak di 25 negara melaporkan merasa terancam oleh pelecehan atau eksploitasi seksual daring.
- Pelanggaran Privasi dan Penyalahgunaan Data
Banyak platform digital yang mengumpulkan data pengguna, termasuk anak-anak. Sayangnya, tidak semua perusahaan teknologi memiliki kebijakan yang melindungi privasi anak.Data pribadi anak sering digunakan untuk kepentingan pemasaran tanpa sepengetahuan mereka atau orang tua. Selain itu, paparan berlebihan terhadap iklan digital dapat memengaruhi pola pikir dan kebiasaan konsumtif anak-anak.
- Konten Berbahaya di Internet
Anak-anak bisa dengan mudah mengakses konten yang tidak sesuai dengan usia mereka, termasuk ujaran kebencian, kekerasan, serta konten yang dapat memicu tindakan menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.Tanpa pengawasan yang baik, anak-anak dapat terpengaruh oleh tren atau tantangan daring yang berbahaya.
Strategi Perlindungan Anak di Lingkungan Digital
Melindungi anak di dunia digital bukanlah tugas yang bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, perusahaan teknologi, sekolah, dan orang tua harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan digital yang aman. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan:
- Regulasi dan Kebijakan Perlindungan Anak
Pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan regulasi yang melindungi anak-anak dari ancaman daring. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Membuat undang-undang yang mewajibkan platform digital untuk meningkatkan keamanan bagi pengguna anak-anak.
- Menetapkan batasan usia dan sistem verifikasi untuk memastikan anak tidak mengakses konten yang tidak sesuai.
- Meningkatkan sistem pelaporan bagi korban pelecehan dan perundungan siber agar kasus dapat segera ditindaklanjuti.
- Peran Perusahaan Teknologi dalam Keamanan Digital
Perusahaan teknologi harus bertanggung jawab dalam menciptakan ekosistem daring yang aman bagi anak-anak. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:
- Mengembangkan fitur keamanan seperti kontrol orang tua, batasan waktu penggunaan, dan pemfilteran konten.
- Melindungi data pribadi anak-anak dan tidak menyalahgunakannya untuk tujuan pemasaran.
- Menghapus konten berbahaya dengan cepat dan meningkatkan moderasi konten pada platform mereka.
- Pendidikan Literasi Digital untuk Anak
Anak-anak harus dibekali dengan keterampilan literasi digital agar mereka dapat menggunakan internet dengan aman dan bijak. Kementerian Pendidikan dapat bekerja sama dengan sekolah untuk memberikan pendidikan tentang:
- Cara mengenali perundungan siber dan langkah-langkah yang harus diambil jika mengalaminya.
- Kesadaran akan bahaya berbagi informasi pribadi secara daring.
- Cara menggunakan media sosial dengan aman dan bertanggung jawab.
- Peran Orang Tua dalam Mengawasi Anak
Orang tua adalah garda terdepan dalam melindungi anak-anak dari bahaya internet. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Menjalin komunikasi terbuka: Anak-anak harus merasa nyaman untuk berbicara dengan orang tua jika mereka mengalami masalah di dunia maya.
- Menggunakan kontrol orang tua: Banyak platform yang menyediakan fitur kontrol orang tua untuk membatasi akses anak terhadap konten yang tidak sesuai.
- Menanamkan kebiasaan digital yang sehat: Batasi waktu penggunaan perangkat digital agar anak tidak kecanduan dan tetap aktif secara fisik serta sosial.
Strategi Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Indonesia
Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Indonesia masing-masing memiliki regulasi khusus untuk memastikan keselamatan anak-anak saat berselancar di internet. Berikut adalah strategi yang diterapkan oleh Uni Eropa melalui Better Internet for Kids (BIK+), regulasi Children's Online Privacy Protection Act (COPPA) di Amerika Serikat, serta langkah-langkah yang diambil Indonesia dalam menjaga keamanan digital bagi anak-anak.
1. Strategi Uni Eropa: Better Internet for Kids (BIK+)
Pada 11 Mei 2022, Komisi Eropa memperkenalkan strategi baru bernama A European Strategy for a Better Internet for Kids (BIK+). Strategi ini merupakan pengembangan dari kebijakan sebelumnya yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012. BIK+ bertujuan untuk melindungi, menghormati, dan memberdayakan anak-anak dalam lingkungan digital, selaras dengan Prinsip Digital Eropa.
Tiga Pilar Utama BIK+
Strategi BIK+ berfokus pada tiga pilar utama yang saling mendukung untuk menciptakan ekosistem digital yang aman bagi anak-anak:
- Pengalaman Digital yang Aman
Pilar pertama ini menekankan perlindungan anak-anak dari konten berbahaya dan ilegal, serta berbagai risiko online lainnya. Komisi Eropa menargetkan terciptanya lingkungan digital yang lebih aman dengan regulasi yang lebih ketat terhadap platform digital agar hanya menyediakan konten yang sesuai usia. - Pemberdayaan Digital
Tidak hanya melindungi, BIK+ juga mendorong anak-anak untuk memiliki keterampilan digital yang cukup agar mereka bisa mengambil keputusan yang bijak saat berada di dunia maya. Ini mencakup literasi digital, kesadaran terhadap keamanan siber, serta kemampuan mengekspresikan diri secara bertanggung jawab. - Partisipasi Anak dalam Lingkungan Digital
Anak-anak diberikan peran aktif dalam implementasi dan pemantauan kebijakan ini. Uni Eropa percaya bahwa dengan melibatkan anak-anak, mereka bisa lebih memahami risiko digital sekaligus berkontribusi dalam menciptakan lingkungan online yang lebih aman.
Selain itu, strategi BIK+ menyediakan sumber daya melalui portal Better Internet for Kids, yang bekerja sama dengan jaringan pusat internet yang lebih aman di seluruh negara anggota Uni Eropa. Setiap dua tahun sekali, strategi ini dievaluasi dengan melibatkan anak-anak secara langsung.
2. Regulasi Perlindungan Anak di Amerika Serikat: COPPA
Sementara Uni Eropa memiliki BIK+, Amerika Serikat telah lama menerapkan regulasi khusus untuk melindungi anak-anak secara daring. Salah satu kebijakan yang paling signifikan adalah Children's Online Privacy Protection Act (COPPA), yang disahkan pada akhir 1990-an dan mulai berlaku sejak 21 April 2000.
Fokus Regulasi COPPA
COPPA secara khusus mengatur operator situs web atau layanan online yang mengumpulkan informasi pribadi dari anak-anak di bawah usia 13 tahun. Beberapa ketentuan utama dari regulasi ini antara lain:
- Operator situs web diwajibkan memberikan pemberitahuan yang jelas mengenai praktik pengumpulan data pribadi anak-anak.
- Wajib memperoleh persetujuan orang tua sebelum mengumpulkan atau menggunakan data anak.
- Orang tua memiliki hak untuk mengakses, menghapus, atau menolak penggunaan data anak mereka.
- Larangan syarat partisipasi anak yang mengharuskan mereka mengungkapkan data pribadi secara berlebihan.
- Kewajiban menjaga kerahasiaan dan keamanan data anak-anak.
Perkembangan COPPA
Seiring dengan perkembangan teknologi, regulasi COPPA terus diperbarui. Pada tahun 2013, Federal Trade Commission (FTC) memperluas definisi "informasi pribadi" agar mencakup cookie, ID perangkat, dan data geolokasi. Selain itu, pada tahun 2025, Amerika Serikat berencana untuk memperbarui aturan ini dengan penyempurnaan teknis guna menyesuaikan regulasi dengan teknologi terkini.
Meskipun COPPA menjadi salah satu regulasi perlindungan anak yang paling awal diterapkan di dunia, tantangan besar masih dihadapi dalam implementasinya. Banyak platform digital yang beroperasi di luar AS kerap mengabaikan ketentuan ini, sehingga pengawasan yang lebih ketat diperlukan.
3. Perlindungan Anak di Indonesia: UU ITE dan Tantangan Implementasi
Di Indonesia, perlindungan anak dalam dunia digital masih menjadi tantangan besar. Pemerintah telah mengupayakan regulasi yang lebih baik dengan menyisipkan norma perlindungan anak dalam revisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas UU ITE. Namun, efektivitas regulasi ini masih tergantung pada penerapan di lapangan.
Tantangan Regulasi Perlindungan Anak di Indonesia
Beberapa kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan perlindungan anak di ranah digital di Indonesia meliputi:
- Kurangnya Peraturan Pelaksanaan
Hingga saat ini, belum ada aturan turunan yang jelas untuk menegakkan perlindungan anak secara efektif. Tanpa peraturan pelaksanaan yang komprehensif, regulasi ini berisiko menjadi tidak maksimal. - Ketidaksiapan Infrastruktur Digital
Masih banyak platform digital yang tidak menerapkan fitur verifikasi usia secara ketat, sehingga anak-anak masih dapat mengakses konten yang tidak sesuai untuk mereka. - Kurangnya Kesadaran Masyarakat
Banyak orang tua dan anak-anak yang belum sepenuhnya memahami risiko digital serta cara melindungi diri di internet. Literasi digital masih menjadi PR besar di Indonesia. - Tantangan Penegakan Hukum
Pemerintah dan aparat penegak hukum sering kali mengalami kesulitan dalam mengawasi dan menindak pelanggaran perlindungan anak di dunia maya, terutama dalam kasus eksploitasi online dan penyebaran konten yang tidak pantas.
Harapan dan Langkah Ke Depan
Untuk memastikan perlindungan anak yang lebih baik di dunia digital, Indonesia perlu mengambil langkah konkret seperti:
- Menerbitkan regulasi turunan untuk mengatur implementasi perlindungan anak secara lebih spesifik.
- Meningkatkan kolaborasi dengan platform digital untuk memperkuat sistem verifikasi usia dan penyaringan konten.
- Menggalakkan edukasi digital bagi anak-anak, orang tua, dan tenaga pendidik agar lebih memahami cara menjaga keamanan di dunia maya.
- Meningkatkan kapasitas penegak hukum dalam menangani kejahatan siber yang melibatkan anak-anak.
Kesimpulan
Perlindungan anak di era digital adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Uni Eropa melalui strategi Better Internet for Kids (BIK+) berusaha menciptakan ekosistem digital yang aman.
Sementara itu, Amerika Serikat telah lebih dulu mengadopsi regulasi Children's Online Privacy Protection Act (COPPA) untuk memastikan perlindungan privasi anak di bawah usia 13 tahun.
Di Indonesia, meskipun regulasi sudah mulai diterapkan melalui revisi UU ITE, tantangan besar masih harus dihadapi, terutama dalam hal implementasi di lapangan. Peraturan turunan yang jelas, infrastruktur digital yang lebih baik, serta peningkatan literasi digital menjadi faktor kunci dalam melindungi anak-anak dari ancaman dunia maya.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, platform digital, orang tua, dan anak-anak sendiri sangat diperlukan untuk menciptakan internet yang lebih aman dan ramah bagi anak-anak di Indonesia dan dunia.